Kebebasan Itu Omong Kosong

THINK AGAIN about "Freedom/Kebebasan"!!

Liberty?

Are You Sure?

Perumpamaan

Pilih Mau Jadi yang Mana?

Bunga Mawar Merah

When the sky is torn apart, so it was (like) a red rose, like ointment, then which of the favours of your Lord will you deny?

Selasa, 30 November 2010

Memuji dan Dipuji

ga aneh kalo kita denger pujian dan ga aneh juga kalo kita memuji orang lain
pujian dapat kita jadikan sebagai sesuatu untuk memotivasi diri, namun seringkali pujian ini malah menjadikan kita lupa daratan, lepas kontrol, de el el, makin sering orang lain memuji, maka makin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri.
Padahal Allah Swt. mengingatkan dalam firmanNya:
فلا تُزَكّوا أنفسكم، هو أعلم بمن اتقى.
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32).

Nabi Saw. mewariskan tiga tips yang sangat menarik untuk diteladani.
Pertama, selalu mawas diri supaya kita ga sampe terbuai oleh pujian yang dikatakan orang.
so, stiap kali da yang memuji beliau, Nabi Saw. menanggapinya dengan doa:
اللهم لاتؤاخذني بما يقولون
“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari)
Lewat doa ini, Nabi Saw. mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita.
kaya kata pepatah: orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya.
Orang lain yang melontarkan ucapan,eeeh malah kita yang terjerumus jadi besar kepala dan lepas kontrol.

Kedua, menyadari hakikat pujian adalah topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain.
Coz, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap, ketika da seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belangnya kita serta sisi gelap kita.
Oleh sebab itu, kiat Nabi Saw. dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa:
واغفرلي ما لايعلمون
  “Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari)

Ketiga, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah emang benar keadaannya, Nabi Saw. mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt. untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi Saw. kemudian berdoa:
واجعلْني خيرا ممّا يظنّون
  “Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari)

Selain itu, Nabi Saw. dalam kesehariannya juga memberikan contoh bagaimana mengemas pujian yang baik.
Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah akan menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji.

Ada beberapa teladan yang dapat disarikan dari kehidupan Nabi Saw.,di antaranya:
Pertama, Nabi Saw. ga muji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka.
Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi Saw. memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)
Kedua, Nabi Saw. lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi Saw. tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra.:
اللهم فقّهْه في الدين وعلّمْه التأويل
“Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair)
Begitu juga, di saat Nabi Saw.  melihat ketekunan Abu Hurairah ra. dalam
mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra. dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. dan menjadikan Abu Hurairah ra. sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita.
Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang Sahabat memuji Sahabat yang lain secara langsung, Nabi Saw. menegurnya:
قطعت عنق صاحبك
  “Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra.)
Senada dengan hadits tersebut, Ali ra. berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer, “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.

Ketika pujian sudah jadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar pujian ini ga  sampe bikin kita lupa daratan dan lepas kontrol; mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang ga orang lain ga tau; serta terus berdoa kepada Allah Swt. agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang.
Selain itu, yang ga kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat. Toh memuji ga mesti sama kata-kata, tapi malah lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa. dengan demikian, kita tidak sampai menjerumuskan orang yang kita puji.
اللهم لاتؤخذنا بما يقولون، واغفرلنا ما لايعلمون، واجعلنا خيرا مما يظنون.
Utadz Abdullah Hakam Syah, Lc

editan dari ^^ http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/hikmah/1077-tips-memuji-dan-dipuji-dalam-islam

Senin, 29 November 2010

Gedong Gincu

sbuah wilayah yang jika disebut maka orang2 teringat dengan buah mangga...
ya Indramayu...kota kelahiranku...
kota Mangga...
penghasil mangga...
yang khas mangga Indramayu
yaitu mangga gedong gincu.
Mungkin kawan-kawan heran,mengapa buah mangga jenis ini dinamakan gedong gincu.
ya ada embel-embel gincu.
gincu yang selintas jika terdengar maka otak kita langsung berputar mengingat arti dari gincu yaitu lipstik. lucu memang, buah mangga ko pakai lipstik??
hhh--ya buah mangga yang satu ini jika matang ada warna kemerah-merahan--kawan bisa lihat lewat gambarnya--nampak ada warna merah kan. nah itu dia gincu yang ia pakai...
gedong gincu buahnya bulat,jika matang harum semerbak segar baunya,daging buahnya manis namun ada rasa sedikit asam,walaupun begitu, rasa manis dan asam yang hanya sedikit ini menjadi satu,menjadikan buah ini terasa segar ketika sampai di mulut... walaupun tak dapat berbagi dengan daging buahnya yang asli...
ku bagi fotonya aja yaaa :p

Minggu, 28 November 2010

Pemerintah Tajikistan Menutup 28 Masjid

Dalam konteks penindasan oleh pemerintah sekuler di Republik Tajikistan terhadap ekspresi dan kebebasan beragama, maka pada hari Kamis (25/11) pihak keamanan Tajikistan menutup pintu 28 masjid di wilayah perbatasan “Darwaz”.
Sardar Azar Bik Off, Ketua Pemantau Kegiatan Keagamaan di provinsi “Badakhshan” mengklaim bahwa alasan penutupan pintu masjid di wilayah “Darwaz” adalah karena tidak memperbaharui pendaftaran masjid di kantor pemerintah! Dia menambahkan bahwa 16 masjid di daerah “Wang”, dari11 masjid di daerah “Margab” sedang dalam pengawasan.
Setelah penutupan pintu masjid-masjid ini, maka sebagian besar masyarakat wilayah “Darwaz” yang miskin itu, maka mereka terpaksa harus menempuh jarak tidak kurang dari 50 km untuk melakukan sholat Jum’at di masjid, demikian menurut situs “sunni-news.net”.
Para pemimpin kaum Muslim yang terdapat di republik Asia Tengah itu menegaskan bahwa pemerintah yang memimpin rakyat Tajikistan berupaya dengan menutup pintu-pintu masjid itu untuk mencegah penyebaran kebangkitan Islam di negeri ini.
Sebelumnya, Presiden Tajikistan yang sekuler, Imam Ali Rahman memerintahkan agar menutup sejumlah masjid besar di negeri ini. Sebagaimana ia telah memerintahkan untuk membakar sebuah masjid yang dikenal sebagai pusat Gerakan Islam di Tajikistan melakukan kegiatan untuk mendidik masyarakat, padahal kegiatan itu murni kegiatan pendidikan dan keagamaan.
Tajikistan sedang melancarkan serangan keamanan terhadap fenomena keagamaan di negara ini, di mana penangkapan banyak dilakukan terhadap para anggota gerakan Islam. Sebagaimana pihak berwenang Tajikistan telah melakukan penutupan banyak sekolah agama di negara tersebut dengan dalih tidak memiliki izin.
Presiden Tajikistan baru-baru ini melancarkan serangan keras terhadap para perempuan berjilbab di negaranya. Ia memerintahkan aga para perempuan itu meninggalkan jilbabnya dan memakai pakaian nasional. Bahkan ia mengancam akan mengusirnya jika bersikeras memakai jilbab.
Para aktivis Islam di Tajikistan menghadapi berbagai jenis tekanan, seperti keamanan, politik, atau ekonomi. Bahkan sejumlah aktivis Jamaah Tabligh dan Salafi banyak yang ditangkap, atau mereka dipaksa membayar sejumlah uang kepada beberapa anjing rezim berkuasa. Sehingga para aktivis Islam akan menghadapi reaksi keras dari pemerintah jika mereka melakukan aktivitas dakwah apapun.
Selain penindasan yang sifatnya keagamaan, pemerintah Iran juga sedang berusaha menyusup ke dalam Republik Tajikistan untuk menyebarkan Syiah di antara negeri-negeri Islam, serta menyalakan api fitnah. Dan hal ini, sedang dilakukan secara rahasia dan sistematis oleh partai Syiah di Tajikistan. (almoslim.net, 27/11/2010).

Sabtu, 27 November 2010

Cinta Ilalang

seorang gelandangan terbangun di malam kelam
merasakan titis hujan menusuki badan
namun ia tak merasa kedinginan
sebab hujan berkata padanya
:Aku cinta padamu

*Cinta Ilalang 130204 hal 30

Jumat, 26 November 2010

Dan


Dan tak terelakan lagi
Dan kaupun lantang
Dan kaupun bercerita
Dan bercerita lantang
Dan akupun sedih
Dan tak terasa
Dan mengalir
Dan kusadari
Dan percuma air kepedihan ini
Dan terlalu sayang untuk dialirkan
Hanya untuk sebuah ketidakpastian
Yang kebenarannya hanya kau, mereka dan yang Maha Benar yang tahu
Sayang sejuta sayang
Kulihat kesepian dimatamu
Ya sebongkah kesepian
Karena kulihat kau tak punya
Punyai  sahabat yang sebenar-benar
Andai kau tahu
Andai kau pahami
Kebahagiaanmu semu
Kebahagiaan yang hanya sesaat
Andai kau tahu
Kau masih punyai satu
Satu kesempatan
Kesempatan tuk berbenah
Sebelum ajal menjemput
Semoga yang Maha Membolak-balikan hati
Buat hatimu hangat
Ya hangat … Untuk semuanya
Semua orang disekeliling
Semoga Ia tunjuki jalan
Jalan kebenaran menuju keniscayaan
Keniscayaan akan kebahagiaan
Bahagia yang sejati
Semoga akupun demikian

Kamis, 25 November 2010

3 pertanyaan dasar


Darimana kita berasal??
Untuk apa kita diciptakan??
Akan kemana kita setelah kehidupan ini berakhir??

Rabu, 24 November 2010

Mendambakan Penguasa Amanah


Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan tersebut, kecuali  Allah mengharamkan surga untuknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh menuturkan, “Hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk  mengurus urusan  kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepadanya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah). Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.  Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah berkhianat kepada umat.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).
Kekuasaan adalah amanah. Amanah adalah taklif hukum dari Allah SWT. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif (syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika ia melaksanakan taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah.  Sebaliknya, jika ia melanggar taklif  tersebut maka ia akan memperoleh siksa.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, III/522).
Sikap amanah seorang penguasa terlihat dari tatacaranya dalam mengurusi masyarakat berdasarkan aturan-aturan Allah. Ia juga berusaha dengan keras untuk menghiasi dirinya dengan budi pekerti yang luhur dan sifat-sifat kepemimpinan. Penguasa amanah tidak akan membiarkan berlakunya sistem kufur seperti demokrasi yang bertentangan dengan Islam. Ia pun tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada Islam dan kaum Muslim.
*****
Sejak diutusnya Rasulullah SAW, tidak ada sistem kemasyarakatan yang mampu melahirkan para penguasa yang amanah, agung dan luhur, kecuali dalam masyarakat Islam. Kita mengenal Khulafaur Rasyidin yang terkenal dalam kearifan, keberanian dan ketegasannya dalam membela Islam dan kaum Muslim. Mereka adalah negarawan-negarawan ulung yang sangat dicintai oleh rakyatnya dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Mereka juga termasyhur sebagai pemimpin yang memiliki budi pekerti yang agung dan luhur.   
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok penguasa yang terkenal sabar dan lembut.  Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas.  Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban zakat, beliau segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Meskipun pendapatnya sempat disanggah oleh Umar bin al-Khaththab, beliau tetap bergeming dengan pendapatnya. Stabilitas dan kewibawaan Negara Islam harus dipertahankan meskipun harus mengambil risiko perang.  
Khalifah Umar bin al-Khaththab sendiri terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditengarai berasal dari jalan yang tidak benar. Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah berkata kepada Abu Hurairah ra yang saat itu menjadi gubernur di Bahrain, “Bagaimana engkau bisa menduduki jabatan ini?”
Ia menjawab, “Engkau telah menugaskan saya, sedangkan saya tidak menyukainya, dan engkau menghentikan saya, sedangkan saya mencintainya.”
Pada saat itu, Abu Hurairah membawa 400 ribu dirham dari Bahrain.  Selanjutnya, Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau berlaku aniaya terhadap seseorang?”
“Tidak.”
“Dari jumlah itu, berapa yang menjadi milikmu?”
“Dua puluh.”  
“Dari mana engkau memperolehnya?” tanya Umar lagi.
“Saya berdagang.”
Umar pun menukas, “Hitunglah modalmu dan milikmu. Lalu serahkanlah yang lainnya ke Baitul Mal.” (Thabaqât Ibnu Sa'ad, II/4/60; Târîkh al-Islâm, II/388; dan Tahdzîb at-Tahdzîb, XII/267).
Inilah secuil keteladanan yang bisa kita ambil dari Khulafaur Rasyidin dalam mengurus urusan rakyatnya.  
Sungguh, kehadiran seorang penguasa amanah yang selalu berjalan sesuai dengan aturan Allah merupakan dambaan dan impian kaum Muslim saat ini.  Sayangnya, impian ini masih sebatas impian. Perilaku dan kebijakan para penguasa kaum Muslim saat ini tidak berbeda dengan kaum sekuler yang membenci aturan Allah.  Keberpihakan mereka pun tidak pada Islam dan kaum Muslim, tetapi kepada musuh-musuh Allah dan sistem sekuler yang kufur. Lalu mengapa umat masih saja percaya dan bahkan berbondong-bondong mengekor dan mengikuti mereka?[] arief b. Iskandar from : http://mediaumat.com

Selasa, 23 November 2010

Palsu

Adakah semua ini palsu
Sapaan itu palsu
Senyum itu palsu
Perhatian itu palsu
Jejaknya pun palsu
Smua smua palsu
Semua itu palsu
Lalu... kemana yang asli?