Kebebasan Itu Omong Kosong

THINK AGAIN about "Freedom/Kebebasan"!!

Liberty?

Are You Sure?

Perumpamaan

Pilih Mau Jadi yang Mana?

Bunga Mawar Merah

When the sky is torn apart, so it was (like) a red rose, like ointment, then which of the favours of your Lord will you deny?

Senin, 08 November 2010

--bahagia--

seperti biasa...

ku langkahkan kaki...

ke tempat biasa...

tuk jalani hari...

hari ini...

sedikit berbeda...

karena kawanku sedang berbahagia...

selamat berbahagia kawan...

smoga Allah kan buatmu skluarga...

jadi kluarga yang sempurna...

menjadi kluarga pembelaNya...

Amiin...

Minggu, 07 November 2010

^^hidup adalah perjuangan^^

Perjuangan hidup memang semakin berat..
tapi kita pun harus tetap berjuang...

^^-------------------------------------------^^

Jika Anda merasa selalu hidup dalam tekanan, coba lihatlah mereka...

jika Anda merasa pekerjaan anda sangatlah berat, bagaimana dengan mereka…

Jika Anda merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat nya…

Jika Anda sempat merasa putus asa, ingatlah usaha orang ini...

Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang menikmati makanan yang mungkin menurut kita sangatlah menjijikan…

Jika Anda merasa hidup anda sangat menderita, apakah anda juga merasakan penderitaan seperti ini ...

Di saat kita kecil dimanja dan di sayang, manjakah ia??

Tanyalah ke dalam diri kita sendiri, dibandingkan dengan mereka, seberapa beruntungkah sebenarnya kita?

Di saat kita dihadapi oleh berbagai rintangan dalam hidup, ingat, kita tidak pernah kehilangan opsi untuk tetap bersyukur...

Mari kita Renungkan Bersama..

"fabiayyi ala i rabbikuma tukadzibaan.." (Q.S: Ar-Rahman)
"Maka nikmat Tuhan kamu yg manakah yg kamu dustakan..??"
















Sabtu, 06 November 2010

^^perumpamaan^^

ini adalah perumpamaan seorang wanita yang menutup auratnya dengan yang tidak...




Jumat, 05 November 2010

GETARAN CIREMAI BELUM TERASA

Terjadinya bencana letusan Gunung Merapi di Yogyakarta mengundang penasaran warga Kuningan dan sekitarnya untuk mengetahui aktivitas Gunung Ciremai. Gunung Ciremai pernah meletus dengan hebat pada tahun 1938 silam.
Beruntung kondisi Gunung Ciremai pasca letusan Gunung Merapi, masih berada pada level I alias normal. Meskipun setiap harinya terdapat aktivitas magma yang tercatat oleh seismograf di Pos pengamatan Gunung Ciremai,Desa sampora Kecamatan Cilimus.
“Kalau ada getaran sehari di bawah lima kali, itu masih tergolong normal. Apalagi getaran kecil tidak terasa oleh manusia. Nah Gunung Ciremai seperti itu. Sejak bencana letusan Gunung Merapi hingga hari ini, alat kami tidak merekam aktivitas yang membuat kita khawatir” terang seorang petugas di Pos Pengamatan Gunung Ciremai, Iyus Rushana, Minggu (31/10). Dalam menjalankan tugasnya ia selalu memantau aktivitas di Gunung Ciremai, baik melalui seismograf ataupun melalui teleskop, bahkan pihaknya juga rutin meneliti peningkatan suhu air panas di Sangkanhurip dan Ciniru Jalaksana. “Suhu air panas di Sangkanhurip normalnya 46-47 derajat Celcius. Kalau saja terjadi peningkatan tiba-tiba di atas itu, maka patut diwaspadai. Begitu juga di mata air Cipanas Ciniru”
Karakter Gunung Ciremai berbeda dengan Gunung Berapi lainnya, terutama jarak letusannya. Gunung Merapi misalnya, setiap empat tahun terjadi letusan, sedangkan Ciremai sudah sekitar 72 tahun Ciremai tidak menunjukkan aktivitas yang berarti. Berdasarkan data yang ada di Pos pengamatan tahun 1938 pernah terjadi letusan Gunung Ciremai cukup hebat. Sedangkan sebelum tahun tersebut hanya terjadi hembusan pada tahun 1924 lalu tahun 1917 dan pernah terjadi letusan pada tahun 1805. Tahun 1772 pun sempat terjadi letusan.

Kamis, 04 November 2010

^^entahlah^^

entahlah...

ini salah...

itu salah...

inu juga...

binun...

harus bagaimana lagi...

tak ada lagi...

yang mana lagi...

binun...

Rabu, 03 November 2010

RABIES

Fakta yang didapatkan :
-  Rabies terjadi lebih dari 150 negara dan teritori
-  Secara mendunia, lebih dari 55000 orang meninggal akibat rabies per tahunnya.
-  40% penderita yang terkena gigitan binatang yang dicurigai terkena rabies, berusia kurang dari 15 tahun.
-  Anjing merupakan sumber 99% kematian akibat rabies.
-  Pembersihan luka dan pemberiAn imunisasi dalam beberapa jam setelah gigitan dapat mencegah terjadinya rabies dan kematian.

PENDAHULUAN

    Rabies merupakan penyakit yang disebarkan melalui binatang ke manusia, yang disebabkan oleh virus. Virus ini dapat menginfeksi binatang liar atau domestik, menyebar ke manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi dan masuk kedalam tubuh melalui gigitan atau cakaran.
    Rabies didapatkan diseluruh bagian dunia kecuali antartika, tetapi 95% kematian akibat rabies terjadi di Afrika dan Asia. Ketika gejala timbul, dapat berakibat kematian.

Gejala yang ditemukan
     Masa inkubasi rabies berkisar 1 – 3 bulan, tetapi dapat bervariasi antara kurang sampai lebih dari 1 tahun. Gejala awal dari rabies berupa demam, nyeri, terasa geli yang tidak dapat dijelaskan kenapa, perasaan terbakar pada daerah luka.
     Selanjutnya virus akan menyebar keseluruh tubuh termasuk ke susunan saraf pusat. Virus akan menyebar dan menyebabkan peradangan dan pembengkakan di otak dan batang otak.
     Dua bentuk penyakit yang dapat timbul yaitu kecemasan dan kelumpuhan. Rabies dalam bentuk kecemasan timbul gejala hiperaktivitas, sikap yang berlebihan, takut kepada air (hidrophobia) dan terkadang takut untuk terbang (aerophobia). Setelah beberapa hari, terjadi kegagalan fungsi jantung – paru dan menyebabkan kematian.
     Rabies dalam bentuk kelumpuhan terjadi sekitar 30% dari seluruh kasus. Bentuk rabies ini tidak terlalu bahaya, tetapi berlangsung lama dari jenis rabies bentuk kecemasan. Otot-otot gerak secara bertahap akan mengalami klumpuhan, berawal dari daerah sekitar gigitan atau cakaran. Secara perlahan akan terjadi koma dan akhirnya kematian. Bentuk rabies ini sering salah diagnosis, karena bentuknya yang tidak jelas, sehingga tidak banyak laporan mengenai kasus ini.
Beberapa gejala yang dapat ditemukan yaitu :
-          Cemas, tertekan
-          Mengeluarkan air liur terus menerus
-          Sakit kepala (berputar)
-          Nyeri yang hebat pada tempat gigitan hewan sebelumnya
-          Otot-otot menjadi lemah
-          Mudah terangsang
-          Kehilangan indra perasa pada daerah luka gigit
-          Demam yang tidak tinggi
-          Keram otot
-          Kesemuta dan kebas
-          Tidak bisa istirahat
-          Kesulitan untuk asupan makan (minum menyebabkan spasme pita suara)


Penegakkan Diagnosis
     Tidak ada tes yang tersedia untuk menentukan adanya infeksi rabies pada manusia sebelum gejala khas timbul (hidrophobia, aerophobia). Dengan menggunakan otopsi dapat ditemukan virus rabies di jaringan otak dengan menggunakan tes antibodi fluerescent.

Penyebaran Penyakit
     Manusia terinfeksi rabies dari binatang yang terinfeksi melalui gigitan dan cakaran. Anjing merupakan binatang utama penyebaran rabies, dan penyebab kematian sekitar 55.000 manusia di Asia dan Afrika.
     Kelelawar merupakan sumber infeksi rabies di Amerika Serikat dan Kanada. Rabies yang disebabkan oleh kelelawar pernah merebak di Australia, Amerika Latin dan Eropa Barat. Penyebaran yang disebabkan oleh hewan liar seperti rubah, rakun, sigung, anjing liar dan hewan karnivora lainnya, sangat jarang.
     Penyebaran dapat juga terjadi akibat terkenanya  mukosa atau luka yang masih segar kepada air liur hewan yang terinfeksi. Penyebaran antar manusia melalui gigitan secara teoritis memungkinkan tetapi belum pernah ditemukan. Penyebaran tidak terjadi melalui makanan dari daging hewan yang terkena infeksi.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Setelah Tergigit
     Penatalaksanaan tepat dan segera dapat mencegah timbulnya gejala dan kematian. Penatalaksanaan berupa perawatan dari luka, pemberian immunoglobulin rabies dan segera vaksinasi.
     Pembersihan luka dari bakteri dan virusv di daerah luka terinfeksi dengan pembersihan secara fisik atau dengan anti septik merupakan cara yang paling efektif. Penatalaksanaan paling mudah dengan membersihkan dengan air, sabun, detergent, selama 15 menit  disertai pemberian iodine atau zat lain yang dapat membunuh virus rabies.
     Pemberian pengobatan setelah terkena luka oleh binatang yang diduga infeksi bergantung kepada derajat luka rabies tersebut.

Katagori Keterangan Pengobatan
I Menyentuh atau memberi makan binatang (tidak ada luka) Tidak ada
II Gigitan kulit yang tidak tertutup, lecet, garukan tanpa ada perdarahan Segera vaksinasi dan perawatan lokal dari luka
III Satu atau banyak gigitan atau cakaran yang dalam (melbihi kulit), jilatan pada kulit yang terluka, tergigit kelelawar Segera vaksinasi dan pemberian immunoglobulin rabies, perawatan luka segera

Siapakah yang paling berresiko?
     Rabies berpotensi terjadi lebih dari 3,3 juta manusia di Asia dan Afrika. Masyarakat desa memiliki resiko yang  lebih tinggi tetapi juga pada daerah tersebut sulit didapatkan vaksinasi yang tersedia. Walaupun seluruh usia dapat terkena, tetapi angka kejadian paling sering terjadi di usia dibawah 15 tahun, sehingga profilkasis diberikan pada anak usia 5 – 14 th, terutama laki-laki.
     Mereka yang berada didaerah endemis rabies, sering berpergian outdoor, termasuk dalam resiko tinggi rabies, sehingga perlu mendapatkan profilaksis rabies.

PENCEGAHAN

Eliminasi Rabies pada Anjing
     Rabies merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Strategi yang paling efektif  untuk mencegah penularan rabies adalah dengan vaksinasi terhadap anjing atau hewan lain yang dapat menularkan. Pemberian antirabies terhadap binatang-binatang pembawa, telah berhasil mengurangi angka rabies di beberapa negara terutama Amerika Latin.
    Pencegahan rabies melalui vaksinasi anjing domestik memiliki angka efektifitas yang tinggi dalam pencegahan rabies, selain itu secara lebih baik pula secara finansial.

Imunisasi Prevensi pada Manusia
    Vaksin pencegahan pada manusia juga sudah didapatkan, diberikan terutama untuk mereka yang memiliki resiko tinggi terjadi rabies (pekerja laboratorium, ahli hewan pada daerah rabies, dan pekerjaan lain yang berhubungan dengan hewan perantara rabies).

---------------------naudzubillah------------------------

Selasa, 02 November 2010

CACAR AIR (VARICELLA)

Cacar air merupakan penyakit ringan yang dapat sembuh sendiri. Sebgian besar anak akan mengalami cacar air, sehingga perlu pencegahan karena bekembangnya jumlah populasi anak.


 PATOFISIOLOGI

Varisella primer disebabkan oleh virus varicella-zoster, yang merupakan herpes virus. Penyebaran dapat melalui sekresi lendir pernafasan ke saluran nafas, ataupun kontak dengan kulit penderita langsung.
Infeksi paling awal terjadi pada konjungtiva atau mukosa saluran pernafasan bagian atas . Virus bereplikasi di kelenjar getah bening selama 2 – 4 hari dan disertai dengan penyebaran virus melalui darah setelah 4 – 6 hari inokulasi. Virus akan bereplikasi di hati, limpa, dan organ lainnnya. Penyebaran virus kedua melalui darah akan berakhir di kulit setelah 14 – 16 hari pemaparan virus, dan menyebabkan kelainan kulit. Beberapa kondisi berat yang mungkin terjadi adalah infeksi di otak, hati dan paru-paru.
Masa inkubasi virus selama 10 – 21 hari, penderita dapat menularkan sejak 1 – 2 hari sebelum kelainan kulit timbul sampai lesi kulit mengering (5 – 6 hari dari awal lesi kulit pertama timbul ). Walaupun imunitas akan terbentuk setelah infeksi ini, dari beberapa laporan ditemukan adanya infeksi kembali dari virus yang sama.


FREKUENSI

Pada masa sebelum vaksinasi disbarluaskan insidensi pada tahun 1988 – 1994 didapatkan  95,5% orang dewasa 20 – 25 tahun, 98,8% usia 30 – 39 tahun, 99,6% usia > 40 tahun telah kebal terhadap virus ini. Sehingga pada tahun 2000 vaksinasi dilakukan untuk melindungi anak dengan usia 19 – 35 bulan, sehingga terjadi penurunan yang signifikan terhadap angka kejadian varisella di usia-usia tersebut.
Varisella menyebar secara mendunia, tetapi pada masing-masing negara memiliki insidensi yang berbeda bergantung suhu, musim. Insidensi cacar air tidak memiliki predileksi usia dan paling sering terjadi pada anak-anak usia 3 – 6 tahun.

MORTALITAS / MORBIDITAS

Angka kesakitan diakibatkan oleh penyebaran virus dalam darah, infeksi otak dan selaputnya, adanya infeksi bakteri, dan infeksi paru-paru. Komplikasi lainnya berupa rendahnya jumlah trombosit, infeksi pada sendi, infeksi hati dan infeksi ginjal.
Pada wanita hamil, infeksi varisela pada usia kehamilan 20 minggu akan menyebabkan kelainan kongenital pada bayi termasuk atrofi anggota gerak, abnormalitas saraf dan mata, dan juga retardasi mental.
Bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air beberapa hari sebelum kelahiran atau 2 hari setelah lahir dapat menimbulkan disseminated varicella neonatorum. Lesi perdarahan di hati dan paru-paru merupakan potensi terjadinya kematian.

KLINIS

Timbulnya penderita cacar air biasanya disertai dengan adanya infeksi pada orang-orang disekitarnya, bahkan pada satu daerah. Perlu di ketahui pula status imunisasi pada anak tersebut, atau cacar air sebelumnya.
Gejala yang mungkin timbul berupa :
•    Demam
•    Kelemahan tubuh
•    Mual
•    Nyeri kepala
•    Lesi kulit yang berbentuk bentolan berisi air, sangat gatal, yang biasanya berawal dari badan dan menyebar keluar (muka, kepala, anggota gerak).
•    Lesi dapat juga terjadi di tenggorokan

PEMERIKSAAN FISIK

Diagnosis ditegakkan dengan melihat lesi kulit yang khas, berupa :
•    Lesi klasik berupa “air mata” berbentuk oval dengan kemerahan pada kulit bagian dasarnya.

       

•    Lesi kulit timbul pada tubuh dan wajah, dengan diawali bentola kemerahan yang membesar selama 12 – 14 hari menjadi besar, berair, berisi nanah dan kering.
•    Lesi biasanya terletak pada sentral tubuh atau anggota gerak bagian proksimal (lengan, paha) dan menyebar ke bawahnya tetapi tidak terlalu banyak.
•    Lesi yang terdapat diseluruh tubuh terdiri atas lesi kulit yang tidak seragam (berbeda stadium erupsinya).
•    Benjolan berair dapat timbul di mukosa (mulut, penis, vagina) membentuk luka yang tidak dalam.
•    Suhu tubuh pasien akan meningkat sampai 39,5 C selama 3 – 6 hari setelah terbentuknya lesi kulit.
•    Benjolan dapat berdarah.
•    Penyebaran ke kulit lainnya dalam bentuk pengaktifan kembali.
•    Dapat disertai dengan nyeri hati (perut atas kanan), dan disertai badan menjadi kuning.
•    Pemeriksaan terhadap fungsi nafas, saraf pusat, sendi dan tulang karena memungkinkan terjadi infeksi pada organ-organ tersebut.

PENYEBAB

Human (alfa) herpesvirus 3 (V-Z virus), yang merupakan anggota dari herpes virus. Penyebaran virus ini melalui kontak langsung,  penyebaran melalui udara, atau melalui plasenta.


PENATALAKSANAAN

Pasien harus diisolasikan dari orang lain, begitu juga untuk kebutuhan sehari-harinya. Pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti gatal (antihistamin-difenhidramin), demam (parasetamol) diperlukan agar mengurangi tingkat berat penyakit. Pemberian obat antivirus berupa acyclovir per oral direkomendasikan dalam 48 jam awal pasien mengeluh gejala cacar air. Pemberian acyclovir per vena di rekomendasikan pada pasien dengan komplikasi berat,  gangguan sistem imunitas dan bayi.
Pemberian varicella-zooster immuno globulin (VZIG) diberikan kurang dari 96 jam setelah terpapar, yaitu pada :
•    Wanita dengan kehamilan
•    Anak dengan gangguan sistem pertahanan tubuh
•    Bayi baru lahir dengan ibu tertular varicella dalam 5 hari sebelum melahirkan atau 48 jam setelah melahirkan.
•    Bayi prematur usia 28 minggu atau lebih muda dengan orangtua tanpa riwayat cacar air sebelumnya.

PROGNOSIS

Prognosis untuk penderita cacar air tanpa adanya komplikasi sangat baik. Pada penderita dengan infeksi paru angka kematian hingga 10% pada penderita tanpa gangguan sistem pertahanan tubuh, dan angka kematian hingga 30% pada penderita dengan gangguan sistem pertahanan tubuh.

PENDIDIKAN PASIEN

•    Hindari penggunaan Aspirin saat menderita cacar air, karena akan menyebabkan Sindroma Reye.
•    Minum sebanyak-banyaknya.
•    Kuku tetap pendek dan pada anak kecil menggunakan sarung tangan agar tidak menggaruk.
•    Penggunaan obat antigatal secukupnya
•    Penderita cacar air harus menghindari dari ibu yang sedang hamil, bayi atau mereka dengan gangguan sistem pertahanan tubuh.
•    Anak dengan cacar air boleh kembali ke sekolah atau berada di lingkungannya lagi apabila semua lesi di kulit sudah mengering.
•    Keluarga harus memperhatikan dan segera membawa ke rumah sakit apabila ditemukan : lesi dengan infeksi, perubahan sikap anak, lesi pada mata, gangguan pernafasan pada anak, nyeri kepala yang hebat.

Senin, 01 November 2010

KANKER PAYUDARA

Pendahuluan

Bagi seorang wanita, payudara merupakan lambang kewanitaan yang sangat dibanggakan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Berbagai jenis kelainan  payudara dapat terjadi, diperlukan suatu disiplin ilmu yang baik tidak hanya mendiagnosa dengan tepat tetapi juga mengobati dengan sebaik-baiknya tanpa mengurangi aspke kosmetik.

Laki-laki dan perempuan memiliki kelenjar payudara dari perkembangan janin di dalam rahim, tetapi pada laki-laki umumnya kelenjar ini tidak berkembang dan pada wanita terjadi perkembangan hingga usia dewasa. Pada kondisi tertentu kelenjar payudara pria tidak hilang seluruhnya sehingga ketika dewasa akan terbentuk payudara yang ukurannya jauh lebih kecil, tetapi tetap memiliki kemungkinan terjadinya kelainan payudara yang tinggi.

Tumor berarti adanya suatu benda (masa) yang tidak seharusnya ada pada bagian tubuh tertentu. Masa ini bisa saja bersifat jinak (infeksi, tumor jinak) atau bersifat ganas (kanker / karsinoma). Yang terpenting adalah bagaimana memperkirakan apakah  benjolan tersebut  jinak atau ganas.
Keganasan (karsinoma) adalah suatu penyakit yang diakibatkan karena perubahan sel dalam tubuh manusia dimana terjadi pertumbuhan terus menerus dan tidak terkendali. Karsinoma mammae terjadi pada jaringan mammae, yang terdiri dari kelenjar penghasil air susu (lobul), saluran yang menghubungkan lobul- lobul bermuara ke putting, jaringan lemak, kelenjar getah bening, serta jaringan ikat. 

Epidemiologi
Kanker payudara menempati urutan kedua penyebab kematian di Amerika. Kurang lebih 183.000 wanita didiagnosis menderita keganasan payudara setiap tahunnya dan 41.000 orang meninggal karena penyakit tersebut. Di Indonesia berdasarkan “Pathological Based Registration“ karsinoma payudara mempunyai insidens relatif 11,5%. Diperkirakan di Indonesia mempunyai insidens minimal 20.000 kasus baru pertahun; dengan kenyataan bahwa lebih dari 50% pasien yang datang berobat ke petugas kesehatan dalam stadium lanjut.

Di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara tahun 1989-1991, frekuensi relatifnya sebesar 12,5%, sedangkan pada tahun 1992 meningkat menjadi 17,4% dan menduduki tempat kedua setelah kanker mulut rahim. Seiring dengan meningkatnya sarana pendidikan dan informasi, diharapkan lebih banyak penderita yang berobat dalam stadium dini. 

Faktor Risiko

1.    Jenis kelamin : laki-laki kemungkian terkena 6-10 permil dari wanita
2.    Usia : jarang < 20 tahun, < 30 tahun : 2%, > 30 tahun setiap tahun usia akan mempertinggi risiko
3.    Pernah kanker : payudara sebelahnya  3-4 kali orang normal
4.    Riwayat keluarga sedarah :  terkena < 45 thn  risiko 5-6 kali, lebih tua  2 kali atau kurang
5.    Faktor endogen
Hormonal : pola menstruasi, reproduksi, faktor keluarga, adanya tumor jinak yang pernah diderita
 menarche < 10 tahun, menopause > 50 tahun
 infertilitas dan nuliparitas mempunyai kemungkinan 30-70% menderita kanker payudara bila dibandingkan dengan wanita yang mempunyai anak. Hamil pertama pada usia 18 tahun risiko 1/3 dari yang hamil pertama > 30 tahun
 hubungan sedarah tingkat pertama  risiko 2-3 kali lipat
 pernah mempunyai tumor jinak risiko 4 kali, risiko bertambah besar sedikitnya 30 tahun setelah terkena tumor jinak

6. Faktor eksogen : radiasi pengion, hormon estrogen, zat pewarna rambut, westernized diet
-    Radiasi : kurang dari 1% kanker payudara disebabkan prosedur radiologis. Radioterapi untuk kanker payudara meningkatkan risiko untuk terjadinya kanker pada payudara kontralateral
-    Penggunaan hormon : Lipnik , dkk : penggunaan kontrasepsi oral untuk waktu yang lama dan digunakan pada usia sangat muda atau bila dimakan sebelum kehamilan pertama akan meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Vessey : penggunaan estrogen oleh wanita pada masa perimenopause dan postmenopause sebagai replacement therapy sedikit meningkatkan risiko.
-    Diet : makanan yang digoreng, tinggi lemak meningkatkan risiko dua kali lipat

Manifestasi Klinis


-  Payudara kanan dan kri harus diperiksa : tidak simetris bentuk dan posisi kedua payudara.
-  Masa tumor  :
•    Konsistensi : keras
•    Jumlah tumor : Beberap bejolan pada satu payudara atau kedua payudara
•    Perubahan permukaan kulit yang diatasnya : kemerahan, penarikan sebagian kulit, bengkak, tampak seperti kulit jeruk (pori-pori terlihat jelas), adanya luka yang tidak sembuh bahkan meluas
•    Puting susu : tertarik, adanya krusta-krusta, keluar cairan dari puting susu bukan masa kehamilan / menyusui
•    Kelenjar getah bening : pembesaran kelenjar getah bening terutama di ketiak, dan sekitar tulang belikat.
•    Tangan pada sisi sama payudara dengan benjolan mengalamic bengkak.
•    Keluhan penyebaran tumor di organ lain :
-    Paru-paru : batuk, sesak.
-    Hati : sering terasa penuh saat makan, mual, muntah, badan menjadi kuning.
-    Tulang : nyeri-nyeri tulang.
-    Otak : penurunan kesadaran atau gangguan fungsi gerak


Pemeriksaan Penunjang
•    Ultrasonografi (USG) payudara : melihat ukuran, konsistensi dan jumlah benjolan pada payudara.
•    USG hati : melihat penyebaran tumor ke hati. 
•    Rontgen dada : melihat adanya penyebaran ke paru-paru atau selaput paru-paru
•    Sidik tulang (bone scan) (atas indikasi) : melihat penyebaran tumor ke tulang seluruh tubuh.
•    CT scan (atas indikasi)
•    Laboratorium : darah rutin, fungsi ginjal, fungsi hati, dan fungsi jantung.

Pengambilan sampel (contoh ) jairngan
•    Fine Needle Aspiration Biopsi (FNAB) : bukan merupakan gold standar
•    Core Biopsy
•    Biopsi Eksisional untuk tumor ukuran <3 cm
•    Biopsi Insisional untuk tumor :
- operable ukuran >3 cm sebelum operasi utama
- inoperable
•    Spesimen mastektomi disertai dengan pemeriksaan KGB
•    Pemeriksaan imunohistokimia : ER, PR, c-erb B-2 (HER-2 neu), cathepsin-D, p53.  (situasional)

Stadium Kanker Payudara & Terapi
•    Stadium O  pengangkatan tumor tanpa harus mengankat seluruh kelenjar payudara.
•    Stadium dini  operasi pengangkatan tumor saja atau seluruh payudara disertai dengan terapi tambahan kemoterapi.
•    Stadium lokal lanjut  beberapa prosedur bergantung kondisi tumor masih memungkinkan di operasi atau tidak. Operasi berupa pengangkatan seluruh kelenjar payudara. Kemoterapi diberikan dapat sebelum dan sesudah atau sesudahnya saja.
•    Stadium lanjut  Sifat terapi hanya untuk memperbaiki kualitas hidup saja, karena angka kematian yang tinggi. Terapi utama berupa kemoterapi dan radiasi. Operasi dilakukan hanya untuk menghilangkan keluhan lokal yang disebabkan oleh tumor tersebut (benjolan, luka, nyeri dsb).

Seluruh tindakan pengobatan kanker payudara sangat bergantung pada stadium dan kondisi dari tumor itu sendiri sehingga konsultasi dengan dokter penanggung jawab mutlak diperlukan.

Identifikasi Dini

Stadium kanker payudara yang rendah dapat dilakukan terapi tidak saja menghilangkan kankernya tetapi juga dapat mempertahankan kosmetik dari payudara dan memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Sehingga identifikasi dini dari keganasan payudara mutlak diperlukan, tindakan ini dapat dilakukan dengan :
•    SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) : dilaksanakan pada wanita usia subur ( mengalami haid teratur ) 1 x tiap minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir.
•    Pemeriksaan Fisik : dilakukan oleh dokter secara tepat, apabila pada pemeriksaan sendiri dicurigai adanya benjolan
•    Mamografi : dianjurkan untuk wanita usia diatas 35 tahun setiap 2 tahun.
•    Ultrasonografi : dianjurkan untuk wanita usia dibawah 35 tahun.


Cara SADARI :