Kamis, 14 Juni 2012

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA


         I.          Latar Belakang
Bahasa Indonesia adalah hasil pertumbuhan dan perkembangan bahasa Melayu. Sutan Takdir Alisjahbana menguraikan bahwa Negeri kita yang terdiri atas beribu-ribu pulau ini, telah selayaknya mempunyai jumlah bahasa dan dialek yang sangat banyak. Namun bahasa dan dialek yang jumlahnya banyak itu sebagian besar  termasuk dalam satu rumpun bahasa yaitu bahasa Melayu, sedangkan sebagian lagi termasuk dalam rumpun yang lebih besar, yaitu rumpun bahasa yaitu bahasa Austronesia atau bahasa Melayu Polinesia.
Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai peninggalan – peninggalan, misalnya:
a.         Tulisan yang terdapat pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380 M.
b.        Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang, pada tahun 683.
c.         Prasasti Talang Tuo, di Palembang, pada tahun 684.
d.        Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada tahun 686.
e.         Prasasti Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada tahun 688.
S. Takdir Alisjahbana menerangkan bahwa bahasa yang menjadi perhubungan umum atau “lingua franca” di Negeri kita pada waktu itu adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu telah menjadi  bahasa umum di Asia Tenggara berabad-abad lamanya, meskipun bahasa Melayu bukan bahasa yang terbesar di kepulauan kita. Kedudukan bahasa Melayu yang istimewa ini disebabkan karena :(a) letak geografis yang istimewa, (b) menjadi bahasa perhubungan bagi seluruh kekuasaan politik kerajaan Sriwijaya, Aceh, dan Malaka.
Bahasa Melayu sebagai lingua franca telah memenuhi fungsinya sebagai bahasa dalam perdagangan, bahasa dalam politik, dan lain-lain. Fungsi bahasa Melayu seperti itu berlangsung sampai akhir zaman penjajahan Belanda dan pejanjahan Jepang. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa bahasa Melayu telah menjadi bahasa umum di negeri kita. Gubernur Jenderal Ruchusson turut mengakuinya. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar di sekolah-sekolah, sebab bahasa Melayu merupakan lingua franca di seluruh kepulauan dan dipakai oleh bangsa yang berbeda-beda seperti : bangsa Arab, Cina, Jawa, dan lain-lain. Sewajarnyalah bahwa pada akhirnya bahasa Melayu itu terangkat kedudukannya menjadi bahasa nasional.
Kongres pemuda Indonesia yang pertama pada tahun 1926 telah membuktikan kesadaran dan semangat para pemuda Indonesia akan perlunya pembinaan bahasa dan kesusasteraan Indonesia, dan pada tanggal 28 Oktober 1928 diadakan kongres pemuda yang kedua. Dalam kongres ini dikumandangkan sumpah pemuda, dan nama bahasa Melayu diganti dengan bahasa Indonesia.

      II.          Asal Usul Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu, yang sejak dahulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca), bukan saja dikepulauan Nusantara melainkan juga hampir diseluruh Asia Tenggara.
Bila dilihat dari sudut sejarah,  bahasa Melayu merupakan bahasa perhubungan atau komunikasi sejak bertahun-tahun yang lalu ini tampak pada masa awal bangkitnya kerajaan Sriwijaya (abad VII). Sriwijaya yang memiliki pengaruh besar bukan saja di Indonesia, namun juga disebagian besar Asia Tenggara telah menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu berperan penting dalam kehidupan sehari-hari pada masa itu, karena Sriwijaya merupakan pusat kebudayaan, perdagangan tempat orang belajar filsafat, dan pusat keagamaan (Budha).
Berdasarkan catatan sejarah, bahasa Melayu tidak saja berfungsi sebagai bahasa perhubungan namun, digunakan juga sebagai bahasa pengantar, bahasa resmi, bahasa agama, dan bahasa dalam penyampaian ilmu pengetahuan. Perkembangan bahasa Melayu juga tampak pada masa kebangkitan pergerakan bangsa Indonesia yang dimulai sejak berdirinya Boedi Oetomo (1908).  Para tokoh pergerakan mulai berpikir akan pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi antar pergerakan yang tergabung dalam berbagai jong. Misalnya, jong selebes, jong java, jong ambon, dan sebagainya. Mereka sepakat, pada akhirnya, untuk memanfaatkan bahasa Melayu sebagai alat bertukar informasi dan komunikasi. Karena dengan itu akan mudah dalam mencapai persatuan dan kesatuan dalam rangka bernasional.
Dalam kongres II jong Sumatera, dengan tegas diputuskan pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan antar jong. Tindak lanjut dari keputusan tersebut adalah menerbitkan surat kabar Neratja, Bianglaa, Kaum  Moeda. Selain pertukaran informasi dan komunikasi semakin terjalin, penyebarluasan bahasa Melayu pun semakin tampak. Ini besar pengaruhnya bagi pemekaran bahasa Melayu dan pergerakan kebangsaan itu sendiri.
Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia berlangsung secara perlahan-lahan, tetapi secara terus menerus dan pada akhir ini perkembangannya itu menjadi pesat sehingga bahasa ini telah menjelma menjadi suatu bahasa baru, yang kaya akan kosa kata dan mantap dalam struktur.
Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah putusan kongres pemuda Indonesia tahun 1928 itu berisi tiga butir kebulatan tekad sebagai berikut  :
Pertama : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu,  tanah air Indonesia
Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Bahasa Melayu menjadi resmi dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda.  Bahasa Melayu yang sudah dipakai sejak pertengahan abad VII menjadi bahasa Indonesia. Perubahan itu dapat diibaratkan sebagai proses kelahiran. Hal ini disebabkan, suatu kelahiran pun memerlukan waktu panjang. Ia memerlukan waktu untuk pembenihan, pengandungan, dan pelahiran. Maka, ketika perubahan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia, pembenihan dan pengandungan adalah masa  pra – 1928. sedangkan masa pasca 1928, bahasa tersebut dapat dikatakan “lahir” dan memperoleh nama sekaligus.
Sebagai suatu bahasa yang hidup, dipakai oleh rakyat yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang masing-masing mempunyai bahasa daerahnya sendiri-sendiri, bahasa Indonesia menerima pengaruh dari bahasa daerah tersebut, misalnya, dari bahasa minangkabau, bahasa sunda, bahasa jawa. Sebagai suatu bangsa yang hidup di tengah-tengah percaturan politik dan kebudayaan dunia, bangsa Indonesia menerima pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Demikian juga berlaku dalam segi bahasa. Kata-kata asing masuk ke dalam bahasa Indonesia seperti bahasa Sanksekerta, bahasa Arab, bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, bahasa Belanda, bahasa Inggris.
Pengaruhnya ini tidak terbatas pada pemungutan kata-kata, tetapi tampak juga pada struktur kata dan kalimat.  Seminar politik bahasa Indonesia yang diselenggarakan pada Februari 1975, merumuskan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai berikut:
a.         Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional.
b.         Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya ke dalam kesatuan kebangsaan nasional.
c.         Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional
d.        Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan antara daerah dan antara budaya

        III.     Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Perubahan Bahasa Melayu menjadi Bahasa
   Indonesia
Ada empat faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu, diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut :
1.         Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa penghubung dan bahasa perdagangan
2.         Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari karena dalam bahasa ini tidak dikenal tingkatan bahasa, seperti dalam bahasa jawa (ngoko, kromo) atau perbedaan bahasa kasar dan halus, seperti dalam bahasa sunda (kasar, lemes).
3.         Suku jawa, suku sunda, dan suku-suku yang lain dengan sukarela menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
4.         Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

        IV.     Peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan bahasa Indonesia.
Tahun-tahun penting yang mengandung arti sangat menentukan dalam sejarah perkembangan bahasa Melayu / Indonesia dapat dirinci sebagai berikut.
1.      Pada tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A Van Ophusijen dan dimuat dalam kitab logat Melayu
2.      Pada tahun 1908 pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku bacaan yang diberi nama commissie voor de volkslectuur (taman bacaan rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi balai pustaka. Balai pustaka menerbitkan buku-buku novel, seperti siti nurbaya dan salah asuha, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
3.      Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada tanggal 28 Oktober 1928 itulah para pemuda pilihan memancangkan tonggak yang kukuh untuk perjalanan bahasa Indonesia
4.      Pada tahun 1933 secara resmi berdiri sebuah angkatan sastrawan muda  yang menamakan dirinya pujangga baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawan
5.      Pada tanggal 2-28 Juni 1938 dilangsungkan kongres bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres di Solo ini dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendikiawan dan budayawan kita saat itu
6.      Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-undang 1945, yang salah satu pasalnya (pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
7.      Pada tanggal 19 Maret 1947  diresmikan penggunaan ejaan Republik (ejaan Soewandi) sebagai pengganti ejaan van Ophuisjen yang berlaku sebelumnya
8.      Kongres bahasa Indonesia II  di Medan pada tanggal 28 Oktober 2 November 1954 adalah juga salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa nasional dan ditetapkan sebagai bahasa negara itu.
9.      Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan melalui pidato kenegaraan di depan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan keputusan presiden no. 57, tahun 1972.
10.  Pada tanggal 31 Agustus 1972 menteri pendidikan dan kebudayaan menetapkan pedoman umum ejaan Indonesia yang disempurnakan dan pedoman umum pembentukan istilah resmi berlaku di seluruh Indonesia.
11.  Tanggal 12 Oktober 1972 No. 156/P/1972 (Amran Halim Ketua) menyusun buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan berupa pemaparan Kaidah Ejan yang lebih luas.
a.    Perubahan huruf
Ejaan Huruf Ejaan yang disempurnakan
Dj Djalan, djauh J Jalan, jauh
J Pajuna, laju Y Payung, layu
b.    Huruf-huruf dibawah ini sebelumnya sudah terdapat dalam ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing yang diresmikan pemakai.
F. maaf
V. Valuta, Universitas
Z. Zeni, lezat
c.    Huruf-huruf Q dan X yang lazim digunakan dalam ilmu ekstrakta tetap dipakai misalnya:
a : b = P : Q
Sinar X
d.   Penulisan d – sebagai awalan yaitu di – sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya sedangkan d sebagai kata depan ditulis terpisah.
di – (awalan) Di (kata depan)
Ditulis Di kampus
Dibakar Di rumah
e.    Kata ulang ditulis penuh dengan huruf tidak boleh digunakan angka 2,
Misalnya:
Anak-anak
Berjalan-jalan
Meloncat-loncat
12.  Kongres bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober – 2 November 1978 merupakan peristiwa peristiwa yang penting bagi kehidupan bahasa Indonesia. Kongres yang diadakan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda yang kelima puluh ini, selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1908, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
13.  Kongres bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada 21 – 26 November 1983. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusanya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum dalam garis-garis besar haluan negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
14.  Kongres bahasa Indonesia V juga diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober – 3 November 1988. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres ini ditandai dengan dipersembahkannya karya besar pusat pembinaan dan pengembangan bahasa kepada pecinta bahasa di nusantara, yaitu berupa (1) kamus besar bahasa Indonesia, dan (2) tata bahasa baku bahasa Indonesia.
15.  Kongres bahasa Indonesia VI diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober – 2 November 1993. pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa di Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancannegara (Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan America Serikat). Kongres ini mengusulakn agar pusat pembinaan dan pengembangan bahasa ditingkatkan statusnya menjadi lembaga bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya undang-undang bahasa Indonesia
16.  Kongres bahasa Indonesia VII diselenggarakan di hotel Indonesia Jakarta pada tanggal 26 – 30 Oktober 1988. kongres ini mengusulkan dibentuknya badan pertimbangan bahasa dengan ketentuan sebagai berikut :
a.         Keanggotaannya terdiri atas tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra
b.         Tugasnya ialah memberikan nasehat kepada pusat pemerintahan dan pengembangan bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan pusat pembinaan dan pengembangan bahasa.
           V.     Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia mempunyai dua macam kedudukan, yaitu sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa Negara sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. 
Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.      Sebagai lambang kebangsaan
2.      Sebagai lambang identitas nasional
3.      Sebagai alat komunikasi antar suku dan antar budaya
4.      Sebagai alat penyatuan bangsa
Sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.      Sebagai bahasa resmi kenegaraan
2.      Sebagai pengantar dalam dunia pendidikan
3.      Sebagai alat perhubungan di tingkat Nasional
4.      Sebagai alat pengembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi

        VI.     Kesimpulan
Bahasa Indonesia yang kini dipakai oleh kita bangsa Indonesia sebagai bahasa resmi di Negara kita dan  bahasa perhubungan atau pergaulan setiap hari berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia bersifat politis, sejalan dengan nama negara merdeka yang diidam-idamkan; negara Indonesia dan suatu bangsa bersatu yaitu bangsa Indonesia. Bersifat politis karena dengan rasa bersatu yang ditimbulkannya, semangat untuk berjuang bersama-sama dalam mengejar kemerdekaan lepas dari penjajahan akan lebih berkobar-kobar. Bangsa Indonesia lebih merasa terikat dalam satu ikatan karena merasa; satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

VII.          Saran
Saat ini bahasa Indonesia sudah berkembang dengan pesat. Dari seluruh penjelasan di atas kita telah mengetahui sejarah perkembangan bahasa Indonesia dimulai dari asal usul bahasa Indonesia sampai dengan diresmikannya bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 dengan diikrarkannya sumpah pemuda. Peresmian bahasa Indonesia tersebut tidak terlepas dari kesadaran dan semangat para pemuda Indonesia akan perlunya pembinaan bahasa dan kesastraan Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebahasaan dan mengamalkan sumpah pemuda yang mengandung arti yaitu satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, selain itu sebagai generasi muda kita harus bangga menggunakan bahasa kita yaitu bahasa Indonesia.

VIII.          DAFTAR PUSTAKA
Arifin Zaenal, 1999. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta; Akademika Pressindo
Badudu, J.S. 1982. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia Bandung; Pustaka
Ngajeman Muhammad. 1986. Kamus Etimologi Bahasa Indonesia. Jakarta; Effhar, dan  Dahara Prize
Yamiliah, M. dan Drs. Slamet Somsoerizal. 1994. Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Kesehatan. Jakarta: Depkes.


0 komentar:

Poskan Komentar

bagaimana menurutmu?